PN Medan Menyampaikan Kekecewaan atas Kerusakan Fasilitas Akibat Demo Pujakesuma

Setelah aksi demonstrasi yang diadakan oleh massa Pujakesuma, Pengadilan Negeri (PN) Medan mengungkapkan kekecewaan mendalam atas kerusakan fasilitas yang terjadi. Kerusakan ini tidak hanya merugikan pengadilan, tetapi juga merupakan kehilangan bagi aset negara yang seharusnya dilindungi dan dijaga. Juru bicara PN Medan, Soniady Drajat Sadarisma, menjelaskan bahwa pasca aksi demonstrasi pada pagi hari, pihaknya menemukan adanya kerusakan pada fasilitas pengadilan yang sangat disayangkan. Hal ini menambah daftar masalah yang harus dihadapi oleh lembaga hukum di Indonesia, terutama dalam menjaga integritas dan fungsionalitas fasilitas publik.
Kerusakan Fasilitas: Dampak dari Aksi Unjuk Rasa
Pascakejadian tersebut, Soniady menegaskan bahwa pihak pengadilan masih melakukan proses inventarisasi untuk mendata kerusakan yang terjadi. Upaya ini penting untuk memahami sejauh mana kerusakan fasilitas yang ada dan untuk menentukan langkah perbaikan yang diperlukan. “Hingga saat ini, kami masih mendata kerusakan guna melengkapi daya dukung langkah selanjutnya,” tambahnya.
Kerusakan fasilitas pengadilan tidak hanya mempengaruhi operasional sehari-hari, tetapi juga menciptakan dampak negatif terhadap citra institusi hukum di mata masyarakat. Pengadilan sebagai simbol keadilan seharusnya menjadi tempat yang aman dan terhormat. Namun, dengan adanya kerusakan, kepercayaan publik terhadap lembaga ini bisa terganggu.
Ruang Dialog dan Aspirasi Masyarakat
Meski menghadapi situasi yang tidak menyenangkan ini, PN Medan tetap membuka ruang dialog dengan massa yang melakukan aksi unjuk rasa. Sekitar pukul 10.00 WIB, perwakilan pendemo, yang didampingi oleh aparat kepolisian, diterima di ruang tamu terbuka PN Medan untuk menyampaikan aspirasi mereka. “Kami telah menerima perwakilan dari pendemo dengan baik untuk menyampaikan aspirasinya,” jelas Soniady.
Dialog yang dilakukan ini merupakan langkah positif dalam menjaga komunikasi antara masyarakat dan institusi hukum. Dengan mendengarkan aspirasi masyarakat, PN Medan berharap dapat memperbaiki hubungan dan menjalin kerjasama yang lebih baik dengan publik. Hal ini juga menunjukkan bahwa pengadilan tidak menutup mata terhadap suara rakyat, meskipun situasi yang dihadapi saat ini cukup rumit.
Proses Hukum yang Berlanjut
PN Medan menegaskan bahwa meskipun terjadi kerusakan fasilitas, proses hukum tetap berjalan sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku. “Kami memastikan setiap perkara ditangani sesuai dengan aturan hukum yang berlaku dan menjunjung prinsip peradilan yang adil,” ungkap Soniady dengan tegas.
Perkara yang menjadi fokus tuntutan massa adalah kasus yang melibatkan Toni Aji Anggoro. Pengadilan telah menjatuhkan putusan pada 28 Januari 2026 dan putusan tersebut telah berkekuatan hukum tetap sejak 5 Februari 2026. “Perkaranya diputus pada 28 Januari 2026 dan berkekuatan hukum tetap pada 5 Februari 2026,” imbuhnya.
Upaya Hukum Lanjutan
Menanggapi putusan yang telah inkracht, Soniady menjelaskan bahwa upaya hukum yang dapat ditempuh adalah Peninjauan Kembali (PK) ke Mahkamah Agung. Hal ini bisa dilakukan jika ditemukan bukti baru, adanya kekhilafan hakim, atau jika terdapat putusan yang saling bertentangan. “Upaya hukum terhadap putusan yang telah inkracht adalah PK, yang dapat diajukan jika ditemukan novum,” jelasnya.
- Kerusakan fasilitas diakibatkan oleh aksi demonstrasi.
- PN Medan masih melakukan inventarisasi kerusakan.
- Pengadilan membuka ruang dialog dengan massa aksi.
- Proses hukum tetap berjalan meskipun ada kerusakan.
- Putusan terhadap Toni Aji Anggoro sudah berkekuatan hukum tetap.
Kasus Toni Aji Anggoro: Kontroversi dan Tuntutan
Toni Aji Anggoro divonis satu tahun penjara dan denda sebesar Rp 50 juta, dengan subsider dua bulan kurungan. Sementara itu, terdakwa lainnya, Jesaya Perangin-angin, dijatuhi hukuman 20 bulan penjara. “Untuk terdakwa Jesaya Perangin-angin masih melakukan upaya hukum banding,” ujar Soniady.
Aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh puluhan massa Pujakesuma ini berfokus pada tuntutan pembebasan Toni Aji Anggoro dalam kasus korupsi pembuatan website desa di Kabupaten Karo. Dalam aksi tersebut, massa menyampaikan orasi dan mendesak pengadilan untuk membebaskan Toni, yang dianggap mereka tidak layak dipidana. “Dia hanya pekerja yang diminta oleh kepala desa,” kata perwakilan massa, Eko Sopianto, menekankan posisi Toni dalam proyek tersebut.
Aksi Demonstrasi yang Memanas
Situasi di lokasi aksi sempat memanas ketika massa berusaha masuk ke area pengadilan dengan menggoyang pagar dan melempar air ke arah petugas. Insiden semacam ini menunjukkan betapa emosionalnya situasi yang dihadapi oleh para pendemo, serta bagaimana frustrasi mereka terhadap putusan hukum bisa memicu tindakan yang merugikan.
Hal ini juga menjadi gambaran nyata dari tantangan yang dihadapi oleh lembaga hukum dalam mengelola situasi yang melibatkan massa. Pihak pengadilan harus bisa menyeimbangkan antara menjaga keamanan fasilitas dan mendengarkan suara masyarakat yang merasa terpinggirkan.
Pentingnya Memelihara Fasilitas Publik
Kerusakan fasilitas di PN Medan bukan hanya masalah internal lembaga, tetapi juga mencerminkan kondisi sosial yang lebih luas. Fasilitas publik, termasuk pengadilan, harus dilindungi agar dapat berfungsi secara optimal. Kerusakan yang terjadi hanya akan menambah beban anggaran negara untuk perbaikan dan pemeliharaan.
Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kolektif dari semua pihak untuk menjaga fasilitas publik. Masyarakat harus memahami bahwa tindakan merusak tidak hanya berdampak pada institusi tetapi juga pada diri mereka sendiri sebagai pengguna layanan. Selain itu, pihak pengadilan perlu meningkatkan komunikasi dan transparansi agar masyarakat merasa lebih terlibat dalam proses hukum.
Peran Masyarakat dalam Menjaga Fasilitas
Masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga fasilitas publik. Beberapa poin yang perlu dipertimbangkan meliputi:
- Meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga fasilitas umum.
- Berpartisipasi dalam kegiatan pemeliharaan dan kebersihan.
- Mengadukan setiap kerusakan atau masalah yang terjadi.
- Bekerjasama dengan pihak berwenang untuk mencegah kerusakan.
- Memberikan dukungan moral kepada institusi hukum dalam menjalankan tugasnya.
Dengan melakukan hal-hal tersebut, masyarakat dapat berkontribusi terhadap terciptanya lingkungan yang lebih aman dan nyaman. Kerjasama antara masyarakat dan lembaga hukum sangat penting untuk memastikan bahwa keadilan dapat ditegakkan dengan baik.
PN Medan dalam menghadapi kerusakan fasilitas akibat aksi demonstrasi ini menunjukkan bahwa meskipun situasi sulit, upaya untuk menjaga dialog dan proses hukum tetap menjadi prioritas. Harapan ke depan adalah agar semua pihak dapat berkolaborasi untuk menciptakan suasana yang kondusif bagi penegakan hukum dan pemeliharaan fasilitas publik.



